Selasa, 20 Agustus 2019

Peneliti Dunia Perburungan Belanda Amati Burung Kacamata-Jawa

Peneliti Dunia Perburungan Belanda Amati Burung Kacamata-Jawa

Peneliti dunia perburungan (Ornithologi) berkebangsaan Belanda, Sebastianus Van Balen (65) 

GENDING - Keberadaan burung Kacamata-Jawa Zosterops flavus (Horsfield, 1821) yang menghuni salah satu habitat mangrove Kabupaten Probolinggo dan acapkali teramati oleh kalangan fotografer satwa liar dan pengamat burung (Birdwatcher) selama ini akhirnya memantik kehadiran peneliti dunia perburungan (Ornithologi) berkebangsaan Belanda, Sebastianus Van Balen (65). 

Kehadiran pakar Ornitholog yang juga terkenal dengan salah satu masterpiecesnya sebuah buku panduan lapangan  (Field guide) berjudul "Burung-burung Sumatera, Kalimantan, Jawa dan Bali" ini adalah sekaligus untuk melakukan perjalanan remidi survey dan pengamatan burung yang memiliki istilah lain 'Javan White Eye' selama dua hari, Senin hingga Selasa (19-20/8/2019) di kawasan mangrove Kecamatan Gending hingga Dringu Kabupaten Probolinggo. 

Kehadirannya kali ini bersama rekannya Iwan Febrianto, pria kelahiran Surabaya 27 Pebruari 1976 yang karib disapa Iwan Londo ini adalah seorang expert pada bidang pengamatan burung pantai yang sudah lalu lalang menjelajah Nusantara selama hampir 20 tahun terakhir. Selama melakukan kegiatan mereka juga ditemani oleh komunitas fotografer satwa liar Probolinggo. 

Iwan Londo  (baju putih) ini adalah seorang expert pada bidang pengamatan burung pantai yang sudah lalu lalang menjelajah Nusantara selama hampir 20 tahun terakhir. Selama melakukan kegiatan mereka juga ditemani oleh komunitas fotografer satwa liar Probolinggo. 

Menurut keterangan Bas Van Balen sapaan karib pria jangkung yang lancar berbahasa Indonesia ini, 10 tahun yang lalu jauh sebelum burung Kacamata-Jawa ini dilindungi oleh Peraturan Menteri Lingkungan Hidup RI Nomor 20 Tahun 2018 Tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa yang Dilindungi, dirinya pernah melakukan survey dan pendataan salah satu spesies burung kacamata (Pleci) yakni Kacamata-Jawa pada beberapa spot di Pulau Jawa yang memang memungkinkan bagi satwa endemik Jawa ini tetap eksis.

"Untuk Jawa bagian timur, beberapa hari lalu kami awali pada salah satu daerah di Pulau Madura. Kami lanjutkan kemarin (18/8/2019) di hutan mangrove Wonorejo Surabaya. Hari ini selama dua hari kami fokus pada tiga spot di Probolinggo. Sedangkan untuk lusa (21/8/2019) kami juga berencana akan mengunjungi kembali salah satu kawasan mangrove di wilayah timur yakni daerah Besuki Kabupaten Situbondo," ungkap Bas Van Balen saat melakukan pengamatan di spot mangrove Desa Pajurangan Kecamatan Gending. 


Sebagai seorang pakar yang cukup mengetahui kondisi populasi burung-burung di wilayah Sunda Besar, Bas Van Balen yang mengaku sangat menyukai perilaku alami burung pleci ini sangat menyesalkan status konservasi Kacamata-Jawa yang terus mengalami perubahan mengkhawatirkan.

Dari yang semula berstatus Hampir Terancam/Near Threatened (NT), kemudian meningkat dengan status Rentan/Vulnerable (VU) oleh data merah IUCN (International Union for Conservation of Nature). Menurut Bas Van Balen hal ini seharusnya menjadi keprihatinan tersendiri khususnya bagi masyarakat pulau Jawa. 

"Nyatanya burung yang seharusnya menjadi kebanggaan masyarakat Jawa ini jumlah populasinya di alam kian menurun tajam. Bukan rahasia lagi jika hal ini tentu dikarenakan maraknya eksplotasi atas nama hobi dan alih fungsi lahan mangrove yang notabene sebagai habitat utama Pleci Jawa, menjadi areal industri dan pertambakan modern," katanya. 

Berdasarkan hasil survey dan pengamatannya di beberapa daerah tersebut, pihaknya menilai bahwa populasi burung langka 'berkacamata' ini saat ini benar-benar dalam kondisi gawat dan genting. "Sejauh pengamatan kami pada beberapa daerah di Jawa Timur yang paling memungkinkan masih menyimpan keberadaan Kacamata-Jawa, kami menyimpulkan status konservasi burung Kacamata-Jawa ini seharusnya dinaikkan lagi menjadi Endangered (EN)," tandasnya. 

Sementara Iwan Londo pun turut membenarkan pernyataan ini. Pasalnya tidak hanya bagi kalangan peneliti dan pakar saja, pada kalangan birdwatcher dan fotografer satwa liar pun burung mungil bersuara melankolis ini memang sangat sulit untuk dijumpai di habitat alaminya, bahkan bisa dibilang nyaris tinggal cerita saja. 

Pihaknya juga sangat mengapresiasi sepak terjang komunitas fotografer satwa liar Probolinggo yang selama ini terus berupaya mengungkap sisa-sisa keberadaan satwa liar langka dan dilindungi di daerahnya. Tidak hanya motivasi mendapatkan sebuah foto bagus, namun juga mengupayakan konservasi untuk mengupayakan perlindungannya. 

"Meskipun tidak banyak namun Probolinggo punya habitat yang berpotensi sebagai benteng terakhir bagi Kacamata-Jawa. Kami harap rekan-rekan komunitas fotografer satwa liar Probolinggo lebih gencar lagi dalam berkonservasi di tengah masyarakat awam. Sampaikan konservasi dengan bahasa sederhana dan mudah di pahami," pungkasnya.

Terpisah, Kasi Konservasi Wilayah VI Probolinggo Mamat Ruhimat menyambut baik tentang informasi potensi yang disampaikan kepadanya terkait tentang keberadaan burung langka dilindungi di wilayah kerjanya itu. Ia menyarankan kepada komunitas pemerhati satwa ini untuk segera berkoordinasi dan membuat laporan tertulis. 


"Tentunya dengan adanya informasi dari masyarakat tersebut kemudian akan mendasari kami untuk menindak lanjuti sesuai dengan tupoksi kita. Pihak BKSDA juga harus melakukan survey potensi dulu untuk mendapatkan data akurat secara fisik dan informasi gambar yang mendukung," paparnya. 

"Kami perlu data awal informasi yang akurat, termasuk upaya awal yang sudah ada. Kalau memang perlu dibuat adanya aturan daerah untuk melindungi keberadaan potensi ini maka kami juga akan berkoordinasi bersama Pemerintah Kabupaten Probolinggo," imbuhnya. (dra)

Minggu, 16 Juni 2019

Bersama Komunitas Perisai , 5am_wildlifephotography Ajak Generasi Muda Untuk Ikut Melestarikan Lingkungan

Bersama Komunitas Perisai , 5am_wildlifephotography Ajak Generasi Muda Untuk Ikut Melestarikan Lingkungan

PAITON - Keanekaragaman hayati harus dilestarikan agar tidak terjadi kelangkaan atau bahkan kepunahan yang ujung - ujungnya sangat merugikan manusia. Salah satunya adalah satwa liar pada jenis burung yang keberadaanya di alam bebas selalu terancam perburuan bebas dan ilegal untuk beragam kepentingan. 

Untuk meningkatkan kesadaran masyarakat, komunitas fotografer satwa liar Probolinggo (5am_wildlifephotography) bersama komunitas penjaga hutan (Perisai) mengajak generasi milenial yakni siswa - siswi jurusan multimedia SMKN 1 Kraksaan untuk berkegiatan bersama di alam bebas, Minggu (16/6/2019) pagi di kawasan KRPH Kabuaran desa Bhinor kecamatan Paiton. 

Selain ikut melakukan pengamatan dan pendataan satwa burung di habitat hutan dataran rendah, Para siswa yang tergabung dalam kelompok ekstrakurikuler video itu juga berkesempatan untuk mempraktekkan materi multimedia yang mereka dapat di sekolah dengan me-filmkan aktivitas komunitas ini.  

Awalnya, cuaca terik dan udara panas hutan dataran rendah membuat para ABG ini tidak betah, bahkan mereka tidak ingin untuk berlama - lama. Namun selang beberapa menit setelah mereka disambut kicau burung liar dan turut serta dalam aktivitas birding, semangat mereka seperti tersulut, mereka pun mulai berbagi peran dan mengeluarkan satu persatu peralatan audio visual yang sebelumnya tersimpan rapi didalam tas punggung mereka. 

"Kegiatan semacam ini baru kali ini kami lakukan dan ternyata mereka terlihat enjoy. Minimal dua manfaat yang mereka dapat, selain untuk memperdalam materi videografi, sekaligus mereka juga bisa belajar tentang pengamatan satwa liar yang sangat jarang diketahui para pelajar," ungkap Syarifudin, pembina ekstrakurikuler sekaligus guru Produksi Multimedia pada SMKN 1 Kraksaan. 

Kedepan Syarifudin berencana untuk lebih sering lagi berkolaborasi, ia berharap melalui kegiatan ini pihaknya kedepan tidak hanya mampu mencetak bibit - bibit yang unggul dalam teknologi multimedia, namun juga mampu melahirkan pribadi - pribadi yang lebih peka dan peduli terhadap lingkungan sekitar. 

"Film pendek yang sedang kami buat kali ini bertema tentang lingkungan, semoga film tersebut nantinya dapat mengedukasi masyarakat secara luas terkait pentingnya keragaman hayati khususnya di Probolinggo," Tutup Syarif sapaan karib guru muda yang terkenal santun ini. 

Sementara Joko Prasetio ketua 5am_wildlifephotography sangat mengapresiasi terobosan yang tengah dilakukan SMKN 1 Kraksaan ini. Menurut ia penyebab utama maraknya perusakan alam maupun perburuan satwa liar di Probolinggo adalah minimnya edukasi masyarakat tentang lingkungan. 

Oleh sebab itu pihaknya berharap kepada instansi dan pihak - pihak terkait untuk berfikir bagaimana agar masyarakat luas  tidak hanya teredukasi secara akademis saja, namun juga sangat perlu adanya edukasi tentang kepedulian alam. Hal ini sangat diperlukan agar masyarakat tidak cenderung semena - mena terhadap alam. 

"Kegiatan semacam ini akan berdampak banyak, generasi muda ini akan tahu apa yang sedang terjadi di alam serta melihat langsung keseimbangan seperti apa yang  tuhan ciptakan di alam. Dengan begitu mereka akan terasah kepekaannya, sehingga mereka tidak akan ikut - ikutan kebanyakan orang - orang saat ini yaitu komersialisme dan apatisme terhadap lingkungan," pungkasnya. (dra)

Rabu, 01 Mei 2019

Catatan 5:am_wildlifephotography     The Client kurang ajar

Catatan 5:am_wildlifephotography The Client kurang ajar



Oleh : Arif Maman 
PAJARAKAN - "Kok gak bawa kamera?"  begitu pertanyaan istri saya ketika saya berpamitan hendak birdwatching, "Hanya mau pengamatan, kok."  timpal saya. Iya, hari itu Minggu (28/04/2019) pagi. Karena ada kesempatan pulang, saya pun berencana mengamati burung pantai di kawasan pesisir dekat dengan kediaman orang tua saya, di Kabupaten Probolinggo. 

Sedikit saya mengerjai teman-teman penggiat konservasi yang aktif di wilayah ini yaitu komunitas fotografer satwa liar (5:am_wildlifephotography), iya komunitas yang cukup langka memang. Malam sebelumnya saya pun kontak dengan mereka, saya katakan bahwa akan ada client yang mau birdwatching di lokasi mereka dan butuh didampingi . Akhirnya kami sepakat, dua orang dari mereka sebagai guide akan bertemu langsung dengan si "client" langsung di TKP esok pada pagi hari. 

Sambil membayangkan wajah - wajah yang sedang saya kerjai itu, pada pagi buta bergegas saya meluncur menuju pesisir desa Penambangan, Kecamatan Pajarakan tempat dimana mereka sepakati sebelumnya. Setiba di lokasi, sekira pukul 05.30 wib, ternyata belum terlihat dua utusan dari komunitas 5:am. Matahari baru muncul penuh dari ufuk, sudah tampak kumpulan jenis kuntul di sebuah petak tambak yang dangkal di kejauhan, ramai menyambut kedatangan saya. 

Sembari menunggu kedatangan sang guide, saya ambil tempat agak tersembunyi, memanfaatkan waktu untuk mengamati sekitar tempat lokasi ini. Saat itu saya jumpai beberapa penghuni asli habitat pesisir ini diantaranya mamalia garangan, burung bondol peking, kipasan belang, raja udang biru, cerek jawa, kowak malam kelabu, cangak merah, blekok sawah, kuntul besar, kuntul kecil, cekakak sungai, dan tekukur biasa. Para burung pendatang seperti trinil pantai, kedidi leher merah, gajahan pengala, gagang bayam timur dan dara laut dari beberapa jenis pun seakan tak mau ketinggalan ingin membagi cerita. 

Tak lama kemudian tampak di kejauhan sebuah motor metik berhenti, lalu pengendaranya tampak mengeluarkan cukup banyak barang dari bagasi motor dan ranselnya. Dugaan saya benar!, Pasti guide birdwatching yang saya kontak semalam, serius sekali nampaknya.  "sukses ngerjain, nih!," Dalamnya benak saya. Dan saya jelas mengenalnya, Djoko Prasetio namanya, teman karib sejak duduk di bangku SD. "Benar - benar 5:am nih, pasti jam segitu sudah berangkat dari rumahnya," kataku bergumam.

Belum juga kami bertemu, eh... dia sudah jeprat - jepret, gatal rupanya melihat burung-burung yang seolah - olah tidak peduli dengan kehadirannya. Sesekali dia tolah-toleh, mungkin mencari "client"nya, memang sengaja sebelumnya saya tidak memberikan nomor telepon client yang saya maksud, wekekekekkek. Dengan sedikit menahan geli di hati, saya pun mendekat dengan sedikit mengendap memghampiri ke arah dia yang sedang asyik memotret. 

begitu kami bertatap mata langsung saja saya ulurkan tangan untuk berjabat tangan. "Saya client -nya," ucap saya sambil berjabat tangan. Yesss alhasil dibalas dengan umpatan mesra kawan lama. Wekekekkk saat itu kami nikmati bersama moment membahagiakan bagi saya dan sekaligus menjengkelkan bagi dia. 

Kami lanjutkan pertemuan menggelikan itu dan duduk bersama di pematang tambak, sambil mengobrol tentang burung, tentang kelestariannya, kami pun melakukan pengamatan, identifikasi dan pendokumentasian perilaku burung - burung yang saat itu kami jumpai, tindak hanya endemik tetapi juga ramah dengan burung migran. Menurut keterangan Djoko Prasetio pesisir Penambangan memang merupakan wilayah persinggahan bagi burung - burung migran dari belahan benua lain. Ada yang hanya beberapa hari bahkan ada pula yang betah sampai berminggu - minggu lamanya. 

Tak lama kemudian, datang lagi rekan dari 5:am_wildlifephotography , Bung Sol kami menyebutnya, salah satu korban client abal-abal, kami berjabat tangan, dan... iyeessss, umpatan khas Probolinggo - an pun meluncur bebas dari mulutnya. Wekekekekek Bung Sol mengisahkan bagaimana ia hampir tidak tidur semalam, karena berusaha mencari pinjaman gear untuk memotret, tentu saja untuk mengimbangi sang client dong?, sementara miliknya sendiri sedang dipinjam temannya. Wah, serius amat yak! Wekekekkk. 

Jadi yang ingin saya tegaskan disini, Recommended banget buat siapapun yang ingin menyalurkan kegiatan birdwatching di seputaran Probolinggo, bisa menghubungi 5:am_wildlifephotography selaku perintis aktivitas birdwatching berbasis komunitas yang sebelumnya memang belum pernah ada di Probolinggo. 

Bahkan Bung Sol melalui obrolannya mengemukakan apa yang tersaji di hadapan kami, Bung Sol melihatnya sebagai peluang untuk menjadikannya destinasi wisata birdwatching, apalagi tak sedikit wisatawan manca negara yang tertarik dengan birdwatching. Terlebih, tempat kami ini dikenal sebagai kawasan yang dilindungi oleh kearifan lokal yaitu larangan aktivitas perburuan bentuk apapun, yang diayomi langsung oleh kepala desa setempat. "Ada peluang untuk menggerakkan ekonomi, memberikan peluang pendapatan lain bagi warga setempat melelaui wisata ramah lingkungan, tanpa merubah ekosistem kawasan," katanya. 

Kesimpulan yang bisa saya ambil, rupanya komunitas ini benar - benar menaruh perhatian lebih tentang kelestarian satwa liar dan habitatnya. Mungkin tidak lama lagi, rekan-rekan ini akan mencanangkan sebuah kawasan yang ramah terhadap satwa liar, khususnya burung. Sebagai generasi yang terlahir di kawasan pesisir, wajar jika perhatian lebihnya pada ekosistem pantai. Ayo kawan, tunjukkan Kawasan Ramah Burung Pantai mu! Tuhan bersama perjuangan kalian. 

Matahari sudah sejajar kepala, burung - burung sudah mulai enggan mengibaskan sayapnya, artinya kami juga harus angkat kaki dari tempat itu. Apalagi kopi hitam pahit bekal kami pun mulai menipis, seperti tak ada alasan lagi untuk berlama - lama lagi bagi kita di tempat itu, wekekekkk. Begitulah sekelumit cerita aktivitas dan candaan para birdwatcher, bagaimana cara mereka bergaul dan membagi waktu luang mereka antara keluarga tercinta dan satwa liar di sekitar mereka. (Man)

Selasa, 19 Maret 2019

Stop Beli Burung Tangkapan Alam !!!

Stop Beli Burung Tangkapan Alam !!!

#turnbackExploitator #stopBeliburungTangkapanAlam Bismillah, meskipun tidak punya wewenang melarang mereka, minimal saya bisa mengingatkan mereka bahwa bukan mereka saja yang berhak atas alam ini. Saya dan keluarga saya juga berhak menikmati keberadaan burung - burung liar yang berseliweran di lingkungan kami. Salam lestari Wildlestari Indonesia ✊✊✊

Jumat, 22 Februari 2019

Kapolres Apresiasi Komunitas Fotografer Satwa Liar Probolinggo

Kapolres Apresiasi Komunitas Fotografer Satwa Liar Probolinggo

PAJARAKAN – Kapolres Probolinggo AKBP Eddwi Kurniyanto mengapresiasi sepak terjang komunitas 5:am_wildlifephotography (Fotografer satwa liar Probolinggo), dalam upayanya mengedepankan penyadartahuan masyarakat tentang pentingnya pelestarian satwa liar di Probolinggo, Jum’at (22/02/2019) sore.
Kesempatan tersebut dilakukannya saat mengunjungi pelaksanaan kegiatan lintas komunitas bertajuk “Sabhara bersama Milenial” yang dilaksanakan selama dua hari (22-23 Februari) di kawasan pertokoan Pajarakan. Di hari pertama tersebut berbagai komunitas di kota Kraksaan dijadwakan untuk memberikan workshop tentang ilmu yang mereka miliki.
Dari sekian banyak komunitas, komunitas 5:am_wildlifephotography cukup menarik perhatiannya. Dimana komunitas ini cukup dikenal melalui hasil karyanya berupa foto dokumentasi perilaku alami satwa liar di alam bebas yang kemudian mereka cetak dan di unggah di media sosial sebagai media edukasi masyarakat.
“Inilah hasil tembakan – tembakan yang perlu dilestarikan, yakni buah karya seni fotografi dengan menyajikan keindahan satwa liar di alamnya yang dapat dinikmati oleh siapa saja,” ungkap Eddwi Kurniyanto.
Menurut Eddwi, komunitas yang boleh dibilang cukup jarang seperti ini sangat perlu di apresiasi dan didukung. Selain memberikan manfaat bagi alam, informasi – informasi positif yang mereka sebar tentu juga akan bermanfaat bagi masyarakat agar mengetahui aturan dan larangan terkait perlindungan satwa liar.
“Menurut saya komunitas fotografer satwa liar seperti ini perlu ditingkatkan dan dikembangkan agar mendapatkan dampak dan capaian lebih luas, dalam rangka mengajak masyarakat Probolinggo agar lebih arif dan bijak dalam memperlakukan satwa liar,” katanya.
Menyikapi maraknya aktivitas perburuan satwa liar saat ini, pihaknya juga sangat menyayangkan segala macam jenis perburuan khususnya satwa liar langka dan dilindungi, baik menggunakan jerat, jaring dan terlebih dengan menggunakan senapan angin. Karena menurutnya, para penghobi senapan angin ini sebenarnya hanya diberi kapasitas untuk latihan – latihan di kawasan tertentu saja, yang bebas dari aktivitas satwa liar dan makhluk hidup lainnya.
“Saya harap Perbakin selaku induk komunitas hobi senapan angin bisa memberikan wadah kegiatan di Probolinggo agar penghobi – penghobi ini tidak menjadikan satwa liar sebagai sasaran, apalagi yang langka dan dilindungi sehingga tidak menambah laju kepunahannya,” tegas perwira berpangkat melati dua di pundaknya ini.
“Berburu satwa langka dilindungi juga merupakan perbuatan melanggar hukum, apalagi di kawasan hutan lindung. Tentu kami akan tindak tegas siapa saja jika melakukan pelanggaran dalam hal ini,” tandasnya. (*)

Sabtu, 09 Februari 2019

Sinergitas lintas komunitas upayakan perlindungan kawasan hutan lestari

Sinergitas lintas komunitas upayakan perlindungan kawasan hutan lestari

Catatan 05_am wildlife photography,PAITON - Aktivis lingkungan lintas komunitas Kabupaten Probolinggo bersama Perhutani dan pemerintah desa kawasan penyanggah hutan mengupayakan penyadartahuan masyarakat melalui pemasangan papan himbauan pelestarian hutan dan larangan perburuan satwa liar, Sabtu (09/02/2019) pagi. 

Papan himbauan tersebut dipasang pada 6 wilayah desa (Curah Temu, Kotaanyar, Bhinor, Banyuglugur, Silobateng, Sumberejo) yang berada pada kawasan hutan produksi dan hutan lindung KRPH Matikan dan Kabuaran. 

Sedikitnya lima komunitas yang tergabung dalam aksi tersebut yakni Komunitas Pecinta Rimba dan Satwa Liar Indonesia (Perisai), 5:am_wildlifephotography, Bhinor Green Community (BGC), Suporter Profauna Indonesia, dan beberapa mantan pemburu lokal. 

Zainal Abidin, Ketua Perisai yang menginisiasi kegiatan ini menjelaskan, kegiatan ini merupakan salah satu upaya untuk penyadartahuan masyarakat tentang pemanfaatan hutan secara lestari dan manfaat keberadaan satwa liar sebagai penyeimbang ekologi alam.

"Selain kegiatan Patroli hutan rutin yang biasa kami lakukan untuk mengedukasi langsung para pelaku pemburu liar di sekitar kawasan hutan Perhutani, papan himbauan ini kami harap juga menjadi media sosialisasi yang efektif," jelas Frans sapaan akrabnya.


Lebih lanjut pria bertubuh tegap ini mengemukakan, setelah satu tahun pihaknya mengupayakan perlindungan terhadap satwa liar dan habitatnya ini boleh dikatakan intensitas perburuan jauh semakin berkurang dibanding sebelumnya. Ia mengasumsikan jika sebelumnya dalam seminggu menjumpai tiga sampai empat aktivitas perburuan, namun saat ini intensitas ini jauh menurun yakni satu sampai dua kali aktivitas perburuan dalam satu bulan. 

"Satwa liar di kawasan ini kini relatif mudah di jumpai mulai dari berbagai jenis burung seperti merak hijau, Ayam hutan hijau, elang, dan kijang. Hal ini tentunya juga karena support kawan - kawan lainnya dari berbagai komunitas aktivis lingkungan, Instansi terkait serta dukungan pihak swasta kepada kami," tandasnya. 

Senada hal tersebut, Kusmani, Kepala Resort Pemangkuan Hutan (KRPH) Matikan sangat menyambut baik adanya kegiatan konservasi yang berkonsentrasi di wilayah kerjanya itu. Menurut pria kelahiran Bondowoso ini, kawasan RPH Matikan dengan luas 1.200 hektar ini tentunya sangat membutuhkan bantuan fungsi pengawasan dari masyarakat. 

"Alhamdulillah, bantuan seperti ini sangat kami harapkan kapan saja. Kami juga sepakat bahwa dengan adanya kegiatan - kegiatan semacam ini sangat efektif dalam menurunkan angka kasus pencurian kayu dan aktivitas perburuan satwa liar baik dengan senapan, jaring, jerat maupun dengan pikat," Pungkas Kusmani. (dra)

Rabu, 06 Februari 2019

Luna, Si Lutung Jawa Hasil Tangkapan Warga Akhirnya Di Translokasi Ke Pusat Rehabilitasi Primata

Luna, Si Lutung Jawa Hasil Tangkapan Warga Akhirnya Di Translokasi Ke Pusat Rehabilitasi Primata

Catatan 05_am wildlife photography,KRAKSAAN – Seekor Lutung Jawa (Trachypithecus Auratus) yang sempat diamankan oleh aktivis lingkungan dan warga sekitar kampus INZAH, Semampir Kraksaan itu secara resmi telah ditangani oleh BKSDA Wilayah VI Probolinggo mulai kemarin, Rabu (06/02/2019) pagi. Upaya itu, sebagai langkah awal pelepas-liaran satwa langka tersebut.
Dua anggota 5:am_wildlifephotography,yang juga selaku suporter PROFAUNA Indonesia, yakni Nur Ahmad dan Hendra Trisianto mendatangi kantor BKSDA wilayah VI Probolinggo di Jalan Mastrip Probolinggo. Mereka membawa Lutung Jawa yang diberi nama “Luna” dan sebelumnya sempat mereka tangani selama dua hari sejak hari Senin (4/2/2019).
Nur Ahmad menuturkan, kondisi Luna saat ini lebih baik dibanding kondisi awal saat pertama kali diamankan oleh warga. Oleh karenanya penyerahan kepada BKSDA ini sebagai upaya untuk menyelamatkan primata endemik pulau Jawa tersebut.
“Sebab, kondisinya rentan mengalami stress, kondisi pertama saat kita amankan belum mau makan sampai keesokan paginya. Pengaman pertama yang dilakukan warga memang kurang memperhatikan aspek kenyamanan. Ini sudah mau makan dan mulai aktif,” kata pria yang akrab dipanggil Inung Djadoel ini.
Mamat Ruhimat selaku Kasi Konservasi Wilayah VI Probolinggo menyambut baik langkah ini. Agar mendapatkan penanganan yang lebih memadai dan supaya bisa dilepas liarkan kembali, Primata rentan punah dengan kategori appendix 1 itu rencananya hari ini, Kamis (07/02/2019) akan di translokasi ke sebuah lembaga yang menangani karantina primata Indonesia (Javan Langur Center) yang berada di Kota Batu, Malang.
“Luna membutuhkan penanganan yang lebih baik, Javan Langur Center sudah kami kontak dan siap untuk melakukan observasi lanjutan. Sebab, Lutung Jawa yang diperkirakan berusia lebih 1 tahun ini perilakunya sudah jinak dan tidak sesuai dengan kehidupan di alam bebas, jadi harus di rehabilitasi dulu,” terangnya.
Lebih lanjut pihaknya berharap apa yang telah dilakukan aktivis lingkungan hendaknya menjadi edukasi dan penyadartahuan masyarakat tentang pentingnya pelestarian satwa liar di alam bebas sebagai penyeimbang ekologi alam.
“Kami harap kepada masyarakat Probolinggo terutama kepada para aktivis agar lebih aktif dan semangat lagi untuk menjalin sinergi. Utamanya dalam permasalahan seperti ini,” pungkasnya. (tim)