Rabu, 30 Januari 2019

Stop Eksploitasi Primata Sekarang Juga

Stop Eksploitasi Primata Sekarang Juga

Catatan 05_AM Wildlife Photography - Perburuan dan perdagangan Primata harus dihentikan!!! agama apapun telah melarang umatnya untuk menyakiti bahkan memburu satwa liar jenis apapun jika tidak dalam keadaan darurat. Namun faktanya perburuan untuk kesenangan dan tujuan komersial terjadi dimana-mana dengan sangat massif.


Primata juga salah satu satwa liar yang mempunyai peran kunci dalam suatu ekologi alam, khususnya di habitat gunung hutan. Keberadaan primata pada suatu kawasan gunung hutan bisa disebutkan sebagai bio indikator bahwa kawasan tersebut dalam kondisi terjaga keutuhan dan kelestarian vegetasinya sebagai penunjang utamanya. 


Salah satunya adalah keberadaan lutung jawa yang sangat erat kaitannya dengan kondisi lingkungan yang bagus sehingga memungkinkan terjaminnya ketersediaan pangan mereka sehari-hari. Kondisi kawasan gunung hutan semacam ini tentu tidak hanya akan menjamin keberlangsungan hidup bagi primata saja, tetapi juga bagi kehidupan manusia disekitarnya. 


Hutan yang sehat dan terawat akan memberikan manfaat ekologi, manfaat lindung, dan manfaat ekonomi bagi manusia disekitarnya. Upaya pelestarian primata yang telah di upayakan oleh beberapa aktifis lingkungan selama ini tentu saja akan seiring dengan upaya perlindungan habitat hutan sebagai rumah bagi primata. Selamat Hari Primata Indonesia tahun 2019, semoga masa depan Primata Indonesia lebih baik kedepannya. (dra)

Senin, 21 Januari 2019

Kemunculan Kembali Bangau Bluwok (Mycteria cinerea) Di Salah Satu Pesisir Probolinggo

Kemunculan Kembali Bangau Bluwok (Mycteria cinerea) Di Salah Satu Pesisir Probolinggo

CATATAN 05_AM WILDFILE PHOTOGRAPHY - PAJARAKAN,Bangau Bluwok (Mycteria cinerea) kembali bermigrasi dan mengunjungi salah satu pesisir di Kabupaten Probolinggo. Seperti telah menjadi tempat favoritnya, pesisir desa Penambangan selama dua tahun terakhir ini tercatat selalu dikunjungi oleh koloni bangau Bluwok. 

Perilaku unik dan status Bangau Bluwok yang saat ini bisa dikatakan nyaris punah acapkali mengundang perhatian para pengamat satwa liar. Kemarin, Minggu (20/01/2019) pagi, beberapa pengamat dan fotografer satwa liar dari akademisi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya berkesempatan untuk mengabadikan sekaligus mengamati keberadaan bangau bluwok ini. 

Budi Setiawan (48) salah satu dosen sekaligus fotografer satwa liar pada Unair Surabaya mengaku sudah dua kali berburu bangau bluwok di Probolinggo, namun pada tahun sebelumnya pihaknya harus rela pulang dengan tangan hampa dan harus menunggu musim migrasi berikutnya. Kali ini ia berhasil mengamati sekaligus mendokumentasikan dengan baik. 

Menurut pria yang akrab di panggil Cak Boeseth ini melihat perilaku bangau Bluwok yang selalu datang kembali setiap tahunnya dan jumlahnya semakin berkembang berarti habitat mangrove disini cocok bagi koloni bangau Bluwok ini. Selain itu kata dia, adanya kepedulian dari masyarakat sekitarnya untuk tidak mengusik keberadaan bangau Bluwok dan juga melindunginya dari tangan pemburu. 


"Karena alasan itu akhirnya mereka selalu kembali pada tahun - tahun selanjutnya untuk mencari makan saat musim migrasi mereka seperti saat ini. Satwa liar selalu mengikuti nalurinya saat bermigrasi, selama mereka enjoy disini dan habitatnya support maka mereka pasti akan selalu kembali," jelas Cak Boeseth. 

Lebih lanjut dosen konservasi satwa liar ini menerangkan, dari total enam ekor Bangau Bluwok yang berhasil terpantau kali ini semuanya dalam kondisi sehat, hal ini terlihat pada kepekaan (aware) bangau bluwok atas kehadiran manusia. Yang kesimpulannya adalah habitat mangrove Penambangan bagus bagi bangau bluwok untuk bermigrasi disini. 

Jika kondisi seperti ini tetap terjaga Cak Boeseth menambahkan ada kemungkinan  Bangau Bluwok ini bisa berkembang biak di sini. Selama kondisi mangrovenya tetap terjaga dan keamanan bangau bluwok selalu terjamin. 


"Kami harap ada tindak lanjut dari pengambil kebijakan khususnya di mangrove desa Penambangan ini, kalau memungkinkan bisa di jadikan kawasan konservasi. Disamping itu juga perlu menambahkan lokasi mangrove nya, selain sebagai fungsi barrier juga untuk supporting habitat satwa liar disini yang ternyata masih banyak jenisnnya selain Bangau Bluwok," Tandasnya. (*)

Senin, 14 Januari 2019

Ramainya Pesisir Probolinggo Saat Musim Migrasi Burung

Ramainya Pesisir Probolinggo Saat Musim Migrasi Burung

Catatan 5:am_wildlifephotography - Tahukah anda? Bahwa beberapa jenis satwa burung juga rutin melakukan perjalanan lintas benua pada waktu-waktu tertentu bersama kelompok-kelompok besar. secara umum salah satu fenomena alam ini disebut Migrasi burung (migratory birds), adalah perpindahan burung secara masal dari benua asalnya yang notabene sedang bercuaca ekstrim menuju benua lain yang sedang bercuaca lebih bersahabat dan menjanjikan persediaan makanan yang melimpah guna melanjutkan siklus perkembangbiakan.

Migrasi burung merupakan sebuah siklus ekologi yang berfungsi penting menjaga keseimbangan ekosistem alam. Selain menarik untuk diamati dan di pelajari bagi kalangan akademis, bagi penghobi fotografi hidupan liar, perilaku burung ini juga sangat indah untuk di dokumentasikan dalam media foto. Burung migran itu berpindah secara masal menempuh jarak ribuan kilometer dari tempat asalnya yaitu belahan bumi utara seperti afrika dan Eurasia yang pada bulan Agustus hingga Maret mengalami musim dingin.

Mereka bergerak serentak menuju belahan bumi selatan seperti Australia, Asia Tenggara dan Indonesia kita tercinta yang beriklim hangat. Sampai akhirnya musim berbiak tiba dan mereka harus kembali pulang menuju tempat asalnya dengan menempuh jarak dan jalur yang sama. Dari sekian banyak jenis burung migran, salah satu jenis yang umum diketahui dan paling sering kami jumpai saat sedang musim migrasi berlangsung adalah jenis burung perancah (shorebird).

Saat sedang transit jenis burung ini biasanya mencari makan di sekitar daerah pesisir pantai, daerah persawahan, pertambakan dan hutan bakau. Beberapa lokasi di pantai timur Sumatera, pantai utara Jawa, Nusa Tenggara, Sulawesi dan Papua diketahui merupakan tempat persinggahan penting para burung pengembara tersebut. Dan tahukah anda? pesisir Probolinggo pun pada musim migrasi burung seperti saat ini, juga kebagian kedatangan tamu kelompok-kelompok burung perancah migran yang sedang mengembara mencari kehangatan dan tentu saja untuk menyambung hidupnya.

Ada yang sebentar bahkan ada pula yang tinggal cukup lama sampai beberapa minggu lamanya. Pada puncak migrasi, suasana pesisir/pertambakan khususnya di daerah sekitaran Probolinggo terasa begitu berbeda dengan hari-hari biasanya yang relatif tenang dan sepi. Suasana mendadak riuh dan ramai dengan aktifitas burung-burung migran yang selalu sibuk berpindah dari satu kolam ke kolam lainnya untuk mencari makanannya masing-masing.

Ritual tahunan yang telah berlangsung berabad lamanya ini berhasil kami pantau dan dokumentasikan, meski hanya sebatas kemampuan dan waktu yang kami miliki serta kapasitas peralatan yang belum cukup memadai. Namun kami berharap catatan ini bisa menjadi informasi dan pengetahuan awal bagi masyarakat awam yang nantinya bisa untuk di kembangkan lebih lanjut. Sementara beberapa jenis burung migran yang berhasil kami pantau dan dokumentasi sejak awal April 2018 sampai akhir juni 2018 antara lain, gajahan pengala (Numenius phaeopus), Gagang bayam (Himantopus leucocephalustimur), cerek kernyut (Pluvialis fulva), Kedidi leher merah (Calidris ruficollis), trinil kaki hijau (Tringa nebularia) , Trinil kaki merah (Tringa totanus) , trinil pantai (Actitis hypoleucos) , trinil semak (Tringa glareola), beberapa jenis dara laut , dan juga Berkik ekor lidi (Gallinago stenura).

Awalnya memang sedikit tidak percaya, bagaimana mungkin burung yang rata-rata memiliki ukuran tubuh tidak seberapa itu mampu terbang dengan menempuh jarak yang sedemikian jauhnya. Namun ada satu bukti kecil yang kami dapatkan dan akhirnya cukup meyakinkan kami. Salah satu bukti itu adalah tanda berupa bendera kecil pada kaki salah satu burung tersebut. Bendera kecil warna orange ini kami dapati pada kelompok burung Kedidi leher-merah, yang beberapa waktu lalu juga berhasil kami amati di sebuah kawasan mangrove dan pertambakan di desa Asembagus kecamatan Kraksaan Kabupaten Probolinggo.

Kedidi leher-merah (Calidris ruficollis) adalah salah satu burung perancah dari keluarga Scolopacidae, dari genus Calidris. Ukuran tubuh kecil (15 cm), dengan warna tubuh bagian atas coklat keabu-abuan, berbintik dan bercoret. Alis mata putih, pusat tungging dan ekor coklat gelap. Sisi ekor dan bagian bawah putih. Iris coklat, paruh hitam, dan kaki hitam (sumber:Burung - burung di Sumatera, Jawa, Bali dan Kalimantan/John Mackinnon).

Berdasarkan informasi lain yang tersedia di Google menyebutkan, bahwa perbedaan dan kombinasi warna pada bendera kaki akan menujukkan tempat atau lokasinya. Hal ini juga diperkuat oleh keterangan yang kami dapat dari Iwan Londo (Bird Consultan Surabaya). Menurut ia bendera warna orange pada kaki itu artinya, bahwa burung tersebut pernah singgah dan ditandai oleh peneliti/pengamat burung di Victoria, Australia. Sementara Kedidi leher-merah ini berbiak di Alaska dan Siberia. Nah kebayang bukan berapa jarak yang harus mereka tempuh agar tetap bisa bertahan hidup dan tetap eksis. Maha besar Allah dengan segala ciptaanya. 

Perjalanan berbahaya dan memakan energi besar ini ditempuh oleh burung-burung migran dua kali dalam setahun. Perjalanan tersebut tentu tidak selalu berlangsung mulus dan menyenangkan, berbagai gangguan dan tantangan harus dihadapi selain predator alami, faktor cuaca dan faktor X lainnya. Salah satu faktor X ini juga terdapat di daerah Probolinggo, seperti yang sudah kami ceritakan diatas, fenomena ini tidak hanya menarik perhatian kami (5:am_Photography). Suasana pertambakan yang mendadak ramai dengan kehadiran burung migran itu ternyata juga mengundang para pemburu bersenapan untuk menyalurkan hasrat kesenangannya. Ironis memang, ibarat tamu jauh yang seharusnya kita sambut dengan hangat dan kita persilahkan tinggal untuk sekedar menyambung hidup, ternyata di pesisir ini hidup mereka harus berakhir. Entah berapa banyak korban yang telah terenggut?, mungkin di tempat lain atau dengan cara berbeda selain menggunakan senapan.

Dengan berbagi cerita seperti ini, sedikit banyak kami berharap agar masyarakat awam khususnya pihak terkait di Probolinggo juga mengetahui tentang adanya migrasi burung yang selalu berulang setiap tahunnya. Dan pesisir pantai di Probolinggo selain menjadi habitat burung air endemik juga merupakan daerah persinggahan burung pantai migran. Maraknya hobi perburuan dan pembabatan vegetasi mangrove yang masih sering terjadi di Probolinggo selama ini tentu juga akan menambah laju penyusutan jumlah populasi satwa liar. Terutama jenis burung endemik maupun burung migran.

Jika ini terus menerus terjadi, maka tentu manusia juga yang akhirnya akan rugi. Melalui media ini, kami juga berharap kepada pihak-pihak terkait untuk lebih memperhatikan kondisi ini. Salah satu cara sederhana bisa dengan memasang lebih banyak papan larangan segala bentuk aktifitas perburuan dan pembabatan mangrove di seluruh wilayah pesisir, bukan di beberapa titik saja yang selama ini sudah kami lihat. Mungkin terasa sepele, tapi hal ini akan sangat efektif mengingat masyarakat masih sangat awam tentang adanya undang-undang yang melindungi keberadaan satwa liar dan vegetasi mangrove, melanggarnya berarti termasuk tindakan melawan hukum dan bisa dipidanakan. (*)
Wildlife Photography Semacam Panggilan Hati

Wildlife Photography Semacam Panggilan Hati

Hobby fotografi ternyata cukup memberikan wahana wawasan baru bagi kami yang tergabung dalam 5:am_Photography. Terutama setelah kami memilih jalur wildlife fotografi yang memang boleh dibilang sedikit lebih menantang dan laki, (yang ini kata istri saya saja sih 😂). Bagaimana tidak, minimal kita harus tahu dong nama satwa liar yang kita jepret. 

Dan secara bersamaan pula, kita pun harus bisa mengidentifikasi satwa itu dengan baik, misalnya ciri-ciri tubuh, perilakunya, dan atau warna bulu dan bentuk paruh pada bangsa burung. Nah selanjutnya Mbah google bisa menjadi rujukan awal atas hasil jepretan kita ini. Dan taarraaaaa.... Akhirnya hobby membaca pun turut mengiringi aktivitas ini. Dengan membaca maka pengetahuan kita pun bertambah, kan seperti itu??. 

Gear yang relatif mahal dan sulitnya untuk mendapatkan objek foto di alam liar membuat genre ini terbilang masih minim peminat khususnya di Indonesia. Namun kondisi minoritas ini ternyata mampu menghubungkan dan menyatukan mereka semua di dalam grup-grup khusus di media sosial. Melalui wadah ini sudah dipastikan ilmu tentang wildlife fotografi dan sharing terkait satwa liar menjadi agenda utama didalamnya. 

Seperti arti pada nama Wildlife Photography, adalah genre yang mendokumentasikan berbagai bentuk dan perilaku satwa liar di habitat alami mereka. Seperti cara makan, cara berkomunikasi sampai cara mereka berkembang biak. Oleh sebab itu kita pun harus benar-benar berada di alam liar untuk mendapatkan gambar satwa liar.

Disini bisa dengan menjelajah gunung hutan, menyisiri areal mangrove/pesisir, keluar masuk perkebunan rakyat atau bahkan di taman kota saat sedang bersantai bersama keluarga tercinta. Tergantung kita ingin mendapatkan foto satwa liar jenis apa, mamalia, burung, amfibi, primata, serangga atau kehidupan bawah air. Lain habitat maka lain pula satwa liar yang menghuninya. Sesuai dengan gear yang kita miliki, yakni kamera DSLR plus lensa tele maka kita lebih fokus pada jenis satwa burung, mamalia, reptilia dan primata. 

Untuk mendapatkan foto tersebut seringkali kita menyisiri areal mangrove/pesisir dan sesekali kami juga mengunjungi gunung hutan. Seperti yang sudah kami lakukan beberapa waktu lalu di wilayah BKSDA Wilayah VI Kabupaten Probolinggo lereng utara gunung Argopuro. Hal ini bukan tanpa alasan, memperhatikan Letak geografis Kabupaten Probolinggo pada posisi 7° 40' s/d 8° 10' LS dan 112° 50' s/d 113° 30' BT membuat Kabupaten Probolinggo memiliki potensi alam yang lengkap. Mulai gunung hutan, ladang dan persawahan serta garis pantai yang membentang sepanjang 72 Km dari ujung barat sampai ujung timur wilayah Kabupaten Probolinggo.

Kondisi geografis semacam ini tentu akan menjadi surga tersendiri bagi satwa liar. Dan selaku putra daerah kami juga ingin mengexplore lebih luas lagi, dengan harapan turut memberikan edukasi kepada masyarakat tentang keanekaragaman hayati. Sisi lain yang didapatkan adalah untuk mengenalkan kepada dunia melalui media fotografi, bahwa Kabupaten Probolinggo selain kaya potensi alam, juga kaya akan keanekaragaman satwa liar di dalamnya. Media sosial yang berbiaya cukup murah meriah, menjadi pilihan utama dalam pengaktualisasian diri atas karya yang kami hasilkan, itu awalnya. 

Seiring waktu berjalan dan saking seringnya kita berdekatan dengan kehidupan satwa liar, memperhatikan tingkah lakunya, dan tentu saja mendapatkan gambarnya, maka tak ayal rasa cinta pun tumbuh diantara kita, yakin ini serius gaes Rasa cinta ini kemudian merangsang rasa empati kita atas keberadaan satwa liar yang kini notabene makin terjepit dan terhimpit. Maraknya eksploitasi alam, dan gencarnya pembangunan tanpa memperhatikan dampak lingkungan serta keberlangsungan hidup satwa liar didalamnya, seakan semakin menggerus habis keberadaan satwa liar ini. Belum lagi ditambah semakin maraknya perburuan beragam jenis satwa liar dengan membabi buta melalui berbagai macam trik dan peralatanya. 

Hanya untuk memenuhi berkembangnya permintaan pasar dan banyak juga yang hanya untuk sekedar memuaskan hasrat berburu nya saja. Sementara adanya undang-undang perlindungan satwa yang telah ada seakan belum mampu melindungi keberadaan satwa liar ini. Sangat miris memang melihat fenomena yang seakan tiada berujung ini.

Di satu sisi ada yang sibuk mempertahankan eksistensinya, di sisi lain banyak pula yang sibuk membinasakannya. Rasa empati ini pun seakan merubah sudut pandang kami yang awalnya hanya berorientasi pada hasil foto. Namun kini rasa ini seakan mendorong kami untuk ambil bagian dalam upaya pelestarian keanekaragaman hayati, minimal disekitar kami dulu. Seperti yang sudah gencar dilakukan para fotografer wildlife lainnya di Indonesia bahwa konservasi satwa juga bisa dilakukan melalui media foto. 

Akhirnya, melalui pendekatan media foto satwa liar yang selalu kami unggah di media sosial itu, kami berharap bisa memancing kepedulian masyarakat luas terhadap keberadaan satwa liar yang kian hari makin terancam. Dan tidak berlebihan jika kami berharap kedepannya hal ini juga akan menginspirasi para elite kedepannya, untuk berfikir dan merumuskan suatu aturan dan perundang-undangan yang lebih berpihak pada satwa liar, lebih tegas dan lebih berwibawa. (*)