Oleh : Arif Maman
PAJARAKAN - "Kok gak bawa kamera?" begitu pertanyaan istri saya ketika saya berpamitan hendak birdwatching, "Hanya mau pengamatan, kok." timpal saya. Iya, hari itu Minggu (28/04/2019) pagi. Karena ada kesempatan pulang, saya pun berencana mengamati burung pantai di kawasan pesisir dekat dengan kediaman orang tua saya, di Kabupaten Probolinggo.
Sedikit saya mengerjai teman-teman penggiat konservasi yang aktif di wilayah ini yaitu komunitas fotografer satwa liar (5:am_wildlifephotography), iya komunitas yang cukup langka memang. Malam sebelumnya saya pun kontak dengan mereka, saya katakan bahwa akan ada client yang mau birdwatching di lokasi mereka dan butuh didampingi . Akhirnya kami sepakat, dua orang dari mereka sebagai guide akan bertemu langsung dengan si "client" langsung di TKP esok pada pagi hari.
Sambil membayangkan wajah - wajah yang sedang saya kerjai itu, pada pagi buta bergegas saya meluncur menuju pesisir desa Penambangan, Kecamatan Pajarakan tempat dimana mereka sepakati sebelumnya. Setiba di lokasi, sekira pukul 05.30 wib, ternyata belum terlihat dua utusan dari komunitas 5:am. Matahari baru muncul penuh dari ufuk, sudah tampak kumpulan jenis kuntul di sebuah petak tambak yang dangkal di kejauhan, ramai menyambut kedatangan saya.
Sembari menunggu kedatangan sang guide, saya ambil tempat agak tersembunyi, memanfaatkan waktu untuk mengamati sekitar tempat lokasi ini. Saat itu saya jumpai beberapa penghuni asli habitat pesisir ini diantaranya mamalia garangan, burung bondol peking, kipasan belang, raja udang biru, cerek jawa, kowak malam kelabu, cangak merah, blekok sawah, kuntul besar, kuntul kecil, cekakak sungai, dan tekukur biasa. Para burung pendatang seperti trinil pantai, kedidi leher merah, gajahan pengala, gagang bayam timur dan dara laut dari beberapa jenis pun seakan tak mau ketinggalan ingin membagi cerita.
Tak lama kemudian tampak di kejauhan sebuah motor metik berhenti, lalu pengendaranya tampak mengeluarkan cukup banyak barang dari bagasi motor dan ranselnya. Dugaan saya benar!, Pasti guide birdwatching yang saya kontak semalam, serius sekali nampaknya. "sukses ngerjain, nih!," Dalamnya benak saya. Dan saya jelas mengenalnya, Djoko Prasetio namanya, teman karib sejak duduk di bangku SD. "Benar - benar 5:am nih, pasti jam segitu sudah berangkat dari rumahnya," kataku bergumam.
Belum juga kami bertemu, eh... dia sudah jeprat - jepret, gatal rupanya melihat burung-burung yang seolah - olah tidak peduli dengan kehadirannya. Sesekali dia tolah-toleh, mungkin mencari "client"nya, memang sengaja sebelumnya saya tidak memberikan nomor telepon client yang saya maksud, wekekekekkek. Dengan sedikit menahan geli di hati, saya pun mendekat dengan sedikit mengendap memghampiri ke arah dia yang sedang asyik memotret.
begitu kami bertatap mata langsung saja saya ulurkan tangan untuk berjabat tangan. "Saya client -nya," ucap saya sambil berjabat tangan. Yesss alhasil dibalas dengan umpatan mesra kawan lama. Wekekekkk saat itu kami nikmati bersama moment membahagiakan bagi saya dan sekaligus menjengkelkan bagi dia.
Kami lanjutkan pertemuan menggelikan itu dan duduk bersama di pematang tambak, sambil mengobrol tentang burung, tentang kelestariannya, kami pun melakukan pengamatan, identifikasi dan pendokumentasian perilaku burung - burung yang saat itu kami jumpai, tindak hanya endemik tetapi juga ramah dengan burung migran. Menurut keterangan Djoko Prasetio pesisir Penambangan memang merupakan wilayah persinggahan bagi burung - burung migran dari belahan benua lain. Ada yang hanya beberapa hari bahkan ada pula yang betah sampai berminggu - minggu lamanya.
Tak lama kemudian, datang lagi rekan dari 5:am_wildlifephotography , Bung Sol kami menyebutnya, salah satu korban client abal-abal, kami berjabat tangan, dan... iyeessss, umpatan khas Probolinggo - an pun meluncur bebas dari mulutnya. Wekekekekek Bung Sol mengisahkan bagaimana ia hampir tidak tidur semalam, karena berusaha mencari pinjaman gear untuk memotret, tentu saja untuk mengimbangi sang client dong?, sementara miliknya sendiri sedang dipinjam temannya. Wah, serius amat yak! Wekekekkk.
Jadi yang ingin saya tegaskan disini, Recommended banget buat siapapun yang ingin menyalurkan kegiatan birdwatching di seputaran Probolinggo, bisa menghubungi 5:am_wildlifephotography selaku perintis aktivitas birdwatching berbasis komunitas yang sebelumnya memang belum pernah ada di Probolinggo.
Bahkan Bung Sol melalui obrolannya mengemukakan apa yang tersaji di hadapan kami, Bung Sol melihatnya sebagai peluang untuk menjadikannya destinasi wisata birdwatching, apalagi tak sedikit wisatawan manca negara yang tertarik dengan birdwatching. Terlebih, tempat kami ini dikenal sebagai kawasan yang dilindungi oleh kearifan lokal yaitu larangan aktivitas perburuan bentuk apapun, yang diayomi langsung oleh kepala desa setempat. "Ada peluang untuk menggerakkan ekonomi, memberikan peluang pendapatan lain bagi warga setempat melelaui wisata ramah lingkungan, tanpa merubah ekosistem kawasan," katanya.
Kesimpulan yang bisa saya ambil, rupanya komunitas ini benar - benar menaruh perhatian lebih tentang kelestarian satwa liar dan habitatnya. Mungkin tidak lama lagi, rekan-rekan ini akan mencanangkan sebuah kawasan yang ramah terhadap satwa liar, khususnya burung. Sebagai generasi yang terlahir di kawasan pesisir, wajar jika perhatian lebihnya pada ekosistem pantai. Ayo kawan, tunjukkan Kawasan Ramah Burung Pantai mu! Tuhan bersama perjuangan kalian.
Matahari sudah sejajar kepala, burung - burung sudah mulai enggan mengibaskan sayapnya, artinya kami juga harus angkat kaki dari tempat itu. Apalagi kopi hitam pahit bekal kami pun mulai menipis, seperti tak ada alasan lagi untuk berlama - lama lagi bagi kita di tempat itu, wekekekkk. Begitulah sekelumit cerita aktivitas dan candaan para birdwatcher, bagaimana cara mereka bergaul dan membagi waktu luang mereka antara keluarga tercinta dan satwa liar di sekitar mereka. (Man)

0 komentar: