Jumat, 22 Februari 2019

Kapolres Apresiasi Komunitas Fotografer Satwa Liar Probolinggo

Kapolres Apresiasi Komunitas Fotografer Satwa Liar Probolinggo

PAJARAKAN – Kapolres Probolinggo AKBP Eddwi Kurniyanto mengapresiasi sepak terjang komunitas 5:am_wildlifephotography (Fotografer satwa liar Probolinggo), dalam upayanya mengedepankan penyadartahuan masyarakat tentang pentingnya pelestarian satwa liar di Probolinggo, Jum’at (22/02/2019) sore.
Kesempatan tersebut dilakukannya saat mengunjungi pelaksanaan kegiatan lintas komunitas bertajuk “Sabhara bersama Milenial” yang dilaksanakan selama dua hari (22-23 Februari) di kawasan pertokoan Pajarakan. Di hari pertama tersebut berbagai komunitas di kota Kraksaan dijadwakan untuk memberikan workshop tentang ilmu yang mereka miliki.
Dari sekian banyak komunitas, komunitas 5:am_wildlifephotography cukup menarik perhatiannya. Dimana komunitas ini cukup dikenal melalui hasil karyanya berupa foto dokumentasi perilaku alami satwa liar di alam bebas yang kemudian mereka cetak dan di unggah di media sosial sebagai media edukasi masyarakat.
“Inilah hasil tembakan – tembakan yang perlu dilestarikan, yakni buah karya seni fotografi dengan menyajikan keindahan satwa liar di alamnya yang dapat dinikmati oleh siapa saja,” ungkap Eddwi Kurniyanto.
Menurut Eddwi, komunitas yang boleh dibilang cukup jarang seperti ini sangat perlu di apresiasi dan didukung. Selain memberikan manfaat bagi alam, informasi – informasi positif yang mereka sebar tentu juga akan bermanfaat bagi masyarakat agar mengetahui aturan dan larangan terkait perlindungan satwa liar.
“Menurut saya komunitas fotografer satwa liar seperti ini perlu ditingkatkan dan dikembangkan agar mendapatkan dampak dan capaian lebih luas, dalam rangka mengajak masyarakat Probolinggo agar lebih arif dan bijak dalam memperlakukan satwa liar,” katanya.
Menyikapi maraknya aktivitas perburuan satwa liar saat ini, pihaknya juga sangat menyayangkan segala macam jenis perburuan khususnya satwa liar langka dan dilindungi, baik menggunakan jerat, jaring dan terlebih dengan menggunakan senapan angin. Karena menurutnya, para penghobi senapan angin ini sebenarnya hanya diberi kapasitas untuk latihan – latihan di kawasan tertentu saja, yang bebas dari aktivitas satwa liar dan makhluk hidup lainnya.
“Saya harap Perbakin selaku induk komunitas hobi senapan angin bisa memberikan wadah kegiatan di Probolinggo agar penghobi – penghobi ini tidak menjadikan satwa liar sebagai sasaran, apalagi yang langka dan dilindungi sehingga tidak menambah laju kepunahannya,” tegas perwira berpangkat melati dua di pundaknya ini.
“Berburu satwa langka dilindungi juga merupakan perbuatan melanggar hukum, apalagi di kawasan hutan lindung. Tentu kami akan tindak tegas siapa saja jika melakukan pelanggaran dalam hal ini,” tandasnya. (*)

Sabtu, 09 Februari 2019

Sinergitas lintas komunitas upayakan perlindungan kawasan hutan lestari

Sinergitas lintas komunitas upayakan perlindungan kawasan hutan lestari

Catatan 05_am wildlife photography,PAITON - Aktivis lingkungan lintas komunitas Kabupaten Probolinggo bersama Perhutani dan pemerintah desa kawasan penyanggah hutan mengupayakan penyadartahuan masyarakat melalui pemasangan papan himbauan pelestarian hutan dan larangan perburuan satwa liar, Sabtu (09/02/2019) pagi. 

Papan himbauan tersebut dipasang pada 6 wilayah desa (Curah Temu, Kotaanyar, Bhinor, Banyuglugur, Silobateng, Sumberejo) yang berada pada kawasan hutan produksi dan hutan lindung KRPH Matikan dan Kabuaran. 

Sedikitnya lima komunitas yang tergabung dalam aksi tersebut yakni Komunitas Pecinta Rimba dan Satwa Liar Indonesia (Perisai), 5:am_wildlifephotography, Bhinor Green Community (BGC), Suporter Profauna Indonesia, dan beberapa mantan pemburu lokal. 

Zainal Abidin, Ketua Perisai yang menginisiasi kegiatan ini menjelaskan, kegiatan ini merupakan salah satu upaya untuk penyadartahuan masyarakat tentang pemanfaatan hutan secara lestari dan manfaat keberadaan satwa liar sebagai penyeimbang ekologi alam.

"Selain kegiatan Patroli hutan rutin yang biasa kami lakukan untuk mengedukasi langsung para pelaku pemburu liar di sekitar kawasan hutan Perhutani, papan himbauan ini kami harap juga menjadi media sosialisasi yang efektif," jelas Frans sapaan akrabnya.


Lebih lanjut pria bertubuh tegap ini mengemukakan, setelah satu tahun pihaknya mengupayakan perlindungan terhadap satwa liar dan habitatnya ini boleh dikatakan intensitas perburuan jauh semakin berkurang dibanding sebelumnya. Ia mengasumsikan jika sebelumnya dalam seminggu menjumpai tiga sampai empat aktivitas perburuan, namun saat ini intensitas ini jauh menurun yakni satu sampai dua kali aktivitas perburuan dalam satu bulan. 

"Satwa liar di kawasan ini kini relatif mudah di jumpai mulai dari berbagai jenis burung seperti merak hijau, Ayam hutan hijau, elang, dan kijang. Hal ini tentunya juga karena support kawan - kawan lainnya dari berbagai komunitas aktivis lingkungan, Instansi terkait serta dukungan pihak swasta kepada kami," tandasnya. 

Senada hal tersebut, Kusmani, Kepala Resort Pemangkuan Hutan (KRPH) Matikan sangat menyambut baik adanya kegiatan konservasi yang berkonsentrasi di wilayah kerjanya itu. Menurut pria kelahiran Bondowoso ini, kawasan RPH Matikan dengan luas 1.200 hektar ini tentunya sangat membutuhkan bantuan fungsi pengawasan dari masyarakat. 

"Alhamdulillah, bantuan seperti ini sangat kami harapkan kapan saja. Kami juga sepakat bahwa dengan adanya kegiatan - kegiatan semacam ini sangat efektif dalam menurunkan angka kasus pencurian kayu dan aktivitas perburuan satwa liar baik dengan senapan, jaring, jerat maupun dengan pikat," Pungkas Kusmani. (dra)

Rabu, 06 Februari 2019

Luna, Si Lutung Jawa Hasil Tangkapan Warga Akhirnya Di Translokasi Ke Pusat Rehabilitasi Primata

Luna, Si Lutung Jawa Hasil Tangkapan Warga Akhirnya Di Translokasi Ke Pusat Rehabilitasi Primata

Catatan 05_am wildlife photography,KRAKSAAN – Seekor Lutung Jawa (Trachypithecus Auratus) yang sempat diamankan oleh aktivis lingkungan dan warga sekitar kampus INZAH, Semampir Kraksaan itu secara resmi telah ditangani oleh BKSDA Wilayah VI Probolinggo mulai kemarin, Rabu (06/02/2019) pagi. Upaya itu, sebagai langkah awal pelepas-liaran satwa langka tersebut.
Dua anggota 5:am_wildlifephotography,yang juga selaku suporter PROFAUNA Indonesia, yakni Nur Ahmad dan Hendra Trisianto mendatangi kantor BKSDA wilayah VI Probolinggo di Jalan Mastrip Probolinggo. Mereka membawa Lutung Jawa yang diberi nama “Luna” dan sebelumnya sempat mereka tangani selama dua hari sejak hari Senin (4/2/2019).
Nur Ahmad menuturkan, kondisi Luna saat ini lebih baik dibanding kondisi awal saat pertama kali diamankan oleh warga. Oleh karenanya penyerahan kepada BKSDA ini sebagai upaya untuk menyelamatkan primata endemik pulau Jawa tersebut.
“Sebab, kondisinya rentan mengalami stress, kondisi pertama saat kita amankan belum mau makan sampai keesokan paginya. Pengaman pertama yang dilakukan warga memang kurang memperhatikan aspek kenyamanan. Ini sudah mau makan dan mulai aktif,” kata pria yang akrab dipanggil Inung Djadoel ini.
Mamat Ruhimat selaku Kasi Konservasi Wilayah VI Probolinggo menyambut baik langkah ini. Agar mendapatkan penanganan yang lebih memadai dan supaya bisa dilepas liarkan kembali, Primata rentan punah dengan kategori appendix 1 itu rencananya hari ini, Kamis (07/02/2019) akan di translokasi ke sebuah lembaga yang menangani karantina primata Indonesia (Javan Langur Center) yang berada di Kota Batu, Malang.
“Luna membutuhkan penanganan yang lebih baik, Javan Langur Center sudah kami kontak dan siap untuk melakukan observasi lanjutan. Sebab, Lutung Jawa yang diperkirakan berusia lebih 1 tahun ini perilakunya sudah jinak dan tidak sesuai dengan kehidupan di alam bebas, jadi harus di rehabilitasi dulu,” terangnya.
Lebih lanjut pihaknya berharap apa yang telah dilakukan aktivis lingkungan hendaknya menjadi edukasi dan penyadartahuan masyarakat tentang pentingnya pelestarian satwa liar di alam bebas sebagai penyeimbang ekologi alam.
“Kami harap kepada masyarakat Probolinggo terutama kepada para aktivis agar lebih aktif dan semangat lagi untuk menjalin sinergi. Utamanya dalam permasalahan seperti ini,” pungkasnya. (tim)

Selasa, 05 Februari 2019

Gerak Cepat Tim 05_AM Wildlife Photography Evakuasi Luntung Jawa

Gerak Cepat Tim 05_AM Wildlife Photography Evakuasi Luntung Jawa

Catatan 05_AM Wildlife Photography, KRAKSAAN - Aktivis lingkungan bersama warga masyarakat di sekitar kampus Institut Ilmu Keislaman Zainul Hasan (INZAH) Kraksaan Kabupaten Probolinggo berhasil mengamankan dan mengevakuasi seekor Lutung Jawa (Trachypithecus Auratus) berkelamin betina yang sebelumnya telah ditangkap oleh pihak kampus, kemarin Senin (04/02/2019) sore.

Sebelumnya proses penangkapan primata langka yang statusnya dilindungi oleh negara tersebut terekam kamera ponsel dan di unggah melalui sebuah grup WhatsApp sehingga terpantau oleh salah seorang aktivis lingkungan tersebut. 

Menurut keterangan security kampus, primata berbulu hitam legam dengan surai putih diwajahnya itu memang sudah sering terlihat di pepohonan sekitar kampus. "Entah kenapa hari ini dia kok berani mendekati ruang kelas, tentu saja hal ini membuat mahasiswi kami ketakutan," terang Fajar Eko security kampus INZAH. 


Nur Ahmad (36) salah satu aktivis lingkungan yang juga sebagai Suporter Profauna Indonesia memperkirakan primata endemik hutan Jawa itu merupakan peliharaan warga sek.itar yang terlepas. Dirinya menyayangkan adanya warga yang mempunyai hobi memelihara satwa liar ini, apalagi satwa langka dan dilindungi. 

Menurut ia, hobi memelihara satwa liar bukanlah sesuatu yang bijaksana dan tidak patut di contoh. Bagaimanapun satwa liar jenis apapun apapun memiliki peran penting di alamnya sebagai penyeimbang ekologi alam, khususnya lutung jawa yang memiliki fungsi sebagai penyebar bibit tumbuhan baru di ekosistem hutan. 

"Lutung jawa ini akan kami amankan dulu dan kami hindarkan dari keramaian supaya tidak terlalu stres. Selanjutnya kami akan berkoordinasi bersama pihak BKSDA untuk upaya penanganan selanjutnya," tutur Inung sapaan karib perangkat desa Sukomulyo ini. 

Sementara itu Mamat Ruhimat, Kasi Konservasi pada Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa timur Wilayah VI Probolinggo mengapresiasi warga dan lembaga pendidikan atas kepeduliannya terhadap satwa liar. Oleh sebab itu pihaknya bersedia untuk menerima lutung jawa tersebut untuk  penanganan selanjutnya. 


Mamat menerangkan proses rehabilitasi satwa liar jenis primata bukanlah perkara mudah. Lutung Jawa tidak akan bisa survive di alam liar jika dilepas sendiri atau sebagai Individu, tetapi harus dilepas dalam sebuah kelompok. 

"Artinya dibentuk koloni baru dulu, langkah terbaik adalah diserahkan ke BKSDA, untuk kemudian dikirim ke pusat rehabilitasi lutung jawa. Setelah punya kelompok maka lutung itu baru bisa dilepas liarkan," tandasnya. (tim)